Kemunculan penyakit antraks di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini tengah jadi sorotan. Terkait hal ini, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nuryani Zainuddin ungkap gejala antraks pada hewan yang perlu diwaspadai masyarakat. "Gejala klinis pada hewan, seperti demam tinggi karena infeksi, ternak gelisah, sulit bernafas kejang kejang, rebah dan kemudian mati," ungkap Nuryani pada konferensi pers virtual, Selasa (6/7/2023).
Namun menurut Nuryani, tidak jarang ternak mati mendadak tanpa menunjukkan gejala klinis. Selain itu, gejala klinis lainnya adalah terlihat pendarahan pada lubang telinga, hidung dan mulut. Lebih lanjut, Nuryani menegaskan jika hewan ternak yang mati tidak boleh disembelih, dibedah, bahkan dibuka.
Zarfan Fawwaz Muhamad Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Tanpa Skripsi Hasil Survei Elektabilitas Terbaru, Terjawab Capres Terkuat Jelang Pemungutan Suara 14 Februari SHIO Ini Peluk Kekayaan, Hidup di Kubangan Uang Setelah Tahun Baru Imlek di Shio Naga Kayu 2024
VIRAL! Video Sebuah Kereta Api Anjlok Beredar, KAI DAOP 6 Yogyakarta: Kami Sedang Perjalanan Jadwal Kereta Api Taksaka Rute Jogja Jakarta Lengkap dengan Harga Tiketnya Jadwal Siaran Timnas U23 Indonesia vs Australia di Piala Asia U23 2024, Live RCTI dan SCTV
Calon Pemenang Pilpres 2024 Mulai Terlihat Jelang Pencoblosan, 6 Hasil Survei Elektabilitas Terbaru Halaman 4 "Sapi yang mati tidak boleh dibedah, dibuka. Harus dibakar atau dikubur untuk mencegah penularan," tegasnya. Karena jika dibedah, spora akan keluar dan masuk ke dalam tanah.
Jika sudah demikian, maka bisa bertahan sampai puluhan tahun. Sebagai informasi, antraks adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri bacillus anthracis. Antraks bersifat aku dan per akut, bisa menyebabkan kematian pada hewan dan bisa menular hewan ke manusia.
"Penyakit antraks bukan penyakit yang bisa dibebaskan. Tidak ada pembebasan wilayah terkait antraks. Tetapi bisa dikendalikan. Karena dia membentuk spora di tanah dan di lingkungan," kata Nuryani menambahkan. Maka yang bisa dilakukan adalah pencegahan melalui vaksinasi area endemis. Kemudian melakukan kontrol lalu lintas dari endemi ke wilayah bebas, atau tindakan pada hewan yang terinfeksi.
Selain itu, menurutnya yang paling penting di dalam pengendalian antraks adalah meningkatkan kepedulian pada masyarakat. Di sisi lain, juga memperkuat survelens dan deteksi dini pada area endemis. "Kemudian investigasi lapangan dan pengobatan yang tepat. Kolaborasi lintas sektor," tutupnya.
Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.